semuaberit4.blogspot.com – Alkisah mengatakan, laut dan udara
di wilayah ini tak pernah menunjukkan gejala gangguan apa-apa menjelang
pesawat atau kapal tiba-tiba hilang di sini. Kesan inilah yang membuat
opini bahwa sampai-sampai pilot atau nakhoda tak pernah sempat lagi
mengambil langkah untuk menghindar. Dan, fenomena yang terjadi di sana
memang seolah terlalu dahsyat untuk dihindari. Kesan ini pun seolah
membenarkan laporan yang diumumkan jurubicara Lanud Schilling, bahwa tak
ada distress call menjelang musibah itu terjadi.

Menanggapi berbagai musibah yang telah terjadi sejak tahun 40-an,
selanjutnya memang melahirkan berbagai teori yang kadang terdengar
ajaib. Karena gejala umum yang kerap dilaporkan adalah kehilangan
orientasi, sejumlah pihak menyebut; penyebabnya mungkin abrasi atmosfer,
gangguan magnetik dan gravitasi, gempa di dasar laut, atau gelombang
tidal. Lebih jauh, karena sebagian besar korban tak bisa ditemukan di
sekitar reruntukan, peristiwanya kemudian juga dikait-kaitkan dengan
upaya penculikan oleh sekelompok makhluk asing (UFO) yang kabarnya
sering mondar-mandir di sana.
Sebuah upaya penelitian ilmiah bukannya belum pernah dicobakan di
sini. Paling tidak hal ini pernah dilakukan pemerintah AS dengan
mengirim kapal tanpa awak yang dikendalikan dengan remote-control. Namun
demikian, kapal yang dipenuhi bermacam-macam sensor penjejak dan
pencatat ini, sayangnya, tak pernah juga berhasil mencatat gejala-gejala
yang mencurigakan. Inilah yang membuat seluruh misteri di Segitiga
Bermuda tak kunjung mendapat penjelasan yang memuaskan secara ilmiah.
Hingga kini.
Dilain pihak, kenyataan inilah yang uniknya kerap membuat para
ilmuwan dunia bertanya-tanya. Dunia telah merengkuh temuan dan pemahaman
yang begitu tinggi dalam bidang science dan wahana tanpa awak, akan
tetapi mengapa fenomena ‘di depan mata itu’ tak pernah juga bisa
disibak? Tak kurang dari Zadrach L. Dupe, pakar dari Departemen
Geofisika dan Meteorologi ITB, mengungkap ironi tersebut kepada Angkasa,
akhir September lalu di Jakarta. Itu sebabnya, ia mencurigai seperti
juga yang diantisipasi ilmuwan dunia lainnya ada satu atau beberapa
negara adidaya yang berdiri di belakang berbagai misteri tersebut.
Perkiraan ini nampaknya tak berlebihan, mengingat pada tahun 60-an,
sebuah badan penyelidik Kanada pernah memergoki pemerintah AS tengah
mengupayakan sebuah proyek dengan peralatan magnet besar yang beberapa
tahun kemudian diakui sebagai Project Magnet. Proyek seperti ini sangat
mungkin berpengaruh karena bisa mengakibatkan pesawat atau kapal celaka
akibat disorientasi.
Akan tetapi, dugaan seperti itu termasuk juga dugaan bahwa di bawah
wilayah ‘keramat’ itu mengandung logam yang bisa menciptakan gangguan
magnet sekali lagi tak pernah menjawab pertanyaan yang sudah kepalang
rumit. Diantara yang paling misterius, diantaranya saja, mengapa dari
hampir semua wahana yang berhasil ditemukan reruntukannya, tak pernah
ditemukan korban (manusia). Mereka seolah hilang tanpa jejak. Pecinta
kisah misteri mungkin masih ingat dengan kasus hilangnya lima pembom TBM
Avenger AL AS yang raib di sana pada Desember 1945 tak berapa lama
setelah lepas landas dari pangkalannya di Fort Launderdale, Florida.
Pesawat-pesawat ini pada awal tahun 90-an akhirnya di temukan tersungkur
di lepas pantai, tak jauh dari pangkalannya. Namun anehnya tak satupun
reruntukannya menyisakan jejak para awaknya.
Jadi kalaupun fenemona alam bertanggung-jawab dalam misteri di
Segitiga Bermuda, paling tidak ada faktor eksternal lain yang ikut
bertanggung-jawab dalam misteri penghilangan para awaknya. Dalam hal ini
yang dimaksud, adalah sebuah komunitas asing yang peduli benar terhadap
kekhasan manusia. Nah lho!